Panggung sandiwara seorang pengembara lapuk

Jumat, 20 Januari 2012

Lelah

  Sesungguhnya ingin sekali aku melupakan kesedihan dan menguburnya dalam-dalam,namun itu malah membuat dadaku kian sesak.Aku ingin melonggarkan dada sebentar,membiarkannya menikmati sehirup udara segar,sedingin kopi yang kau seduh tak sempat habis kuseruput hingga ampas tewas tertinggal di gelas.
  Lagi pula aku hanya bisa membuat bualan bukannya simphony.Kamu bukan maestro yang peka mendengar nada indah sedangkan aku ini tak dapat bicara.
  Aku hanya bekas tambang,yang butuh reklamasi untuk mampu bernafas kembali.
  Dan untungnya,tempat itu masih indah jika senja sempat singgah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar